Memaknai Angka dalam Nilai Keberlanjutan pada Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar

ZZ
Zeni Zakia Zamania 13 Nov 2025
Memaknai Angka dalam Nilai Keberlanjutan pada Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar
Pernahkah kita berpikir, berapa jumlah plastik yang kita gunakan dan kita buang setiap harinya? Ketika kita berbelanja dan mendapat kantong plastik, ketika kita membeli air mineral, atau bahkan sesederhana kita mencari sesuatu untuk mengganjal perut. Jumlahnya mungkin mencapai tiga hingga sepuluh setiap hari. Terlihat kecil, bukan?

Namun, bagaimana jika terdapat 5 orang di rumah kita, dan kita semua melakukan hal yang sama? Jumlah itu bisa menjadi lima belas hingga lima puluh plastik per hari. Mungkin masih bukan jumlah yang besar. Tapi bagaimana jika terdapat 30 orang di dalam kelas, dan jika semua itu dilakukan setiap hari selama satu tahun. Masihkah kita yakin jumlahnya kecil?

Narasi reflektif tersebut lahir dari sebuah perbincangan sore yang sederhana. Dari sana, saya menyadari bahwa terkadang kita perlu menghitung untuk benar-benar memahami dampak dari penggunaan plastik yang berlebihan. Menariknya, justru di situlah saya melihat peluang pembelajaran yang bermakna, pembelajaran yang bukan hanya berarti bagi pengajarnya, tetapi juga bagi peserta didiknya.

Dan tidak hanya itu, masih banyak fakta-fakta atau fenomena lingkungan yang bisa diungkap melalui matematika. Tanpa adanya kesadaran angka-angka, banyak individu kesulitan bahkan tidak memahami seberapa besar pengaruh perannya terhadap krisis lingkungan yang sedang berlangsung. Seperti apa yang diungkapkan oleh Barwell, meskipun matematika tidak dapat secara langsung membantu menyelesaikan permasalahan dunia, tetapi setidaknya matematika dapat membantu peserta didik dalam memahami apa yang sedang terjadi.

Dari pemikiran inilah muncul pertanyaan, mengapa kita tidak mengembangkan sebuah pembelajaran matematika berbasis nilai keberlanjutan? Pendekatan yang sama juga pernah dikembangkan oleh Subject to Climate (https://subjecttoclimate.org/lesson-plans) yang membagikan bahan pembelajaran yang terintegrasi dengan isu lingkungan yang merupakan bagian dari SDGs. Inisiatif tersebut menginspirasi saya untuk menerapkan refleksi serupa dalam pembelajaran matematika di kelas.

Kali ini, saya tidak lagi berfokus pada isu sampah plastik, melainkan pada persoalan mikroplastik yang ramai dibahas media saat itu, yakni isu tentang manusia yang diperkirakan mengonsumsi satu kartu ATM plastik setiap bulannya. Kebiasaan konsumsi ini sangat dekat dengan kebiasaan anak sehari-hari dalam membeli makanan atau minuman sembarangan yang mengandung banyak mikroplastik. Maka, topik inilah yang saya angkat dalam kegiatan pembelajaran.

Pada kegiatan pembelajaran ini, saya mengajak peserta didik untuk merefleksikan konsumsinya sehari-hari dan merepresentasikannya melalui stiker yang saya siapkan. Setiap stiker merepresentasikan jenis makanan atau minuman yang mereka konsumsi, lengkap dengan besaran kandungan mikroplastiknya. Melalalui refleksi inim terkumpullah data konsumsi mereka sehari-hari dan saya mengajak anak-anak untuk menghitungnya.

Di kurikulum kelas V, terdapat capaian pembelajaran mempelajari materi operasi hitung, sehingga kegiatan ini menjadi konteks nyata untuk menerapkan konsep matematika. Sambil belajar menghitung dan memperkirakan jumlah mikroplastik, peserta didik juga belajar tentang tanggung jawab konsumsi.

Dari pembelajaran ini, paling tidak, peserta didik memperoleh kesadaran seberapa besar konsumsi mikroplastik yang mereka lakukan, dan mikroplastik akan terus bertambah jika mereka makan dan minum sembarangan, dan memperbanyak sampah plastik yang mereka gunakan, sehingga dampaknya terasa langsung bagi peserta didik.

Terdapat sebuah kesadaraan akhir yang mereka peroleh, ketika saya ingin memberi reward peserta didik dengan snack yang mana menggunakan kemasan plastik, mereka langsung menyadari bahwa apa yang dikonsumsinya mengandung mikroplastik. Momen sederhana itu menjadi bukti tumbuhnya kesadaran dan pemahaman mereka terhadap isu lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.