Isu nasional “All Eyes on Papua” yang sempat viral di media sosial ternyata menginspirasi sebuah praktik pembelajaran bermakna di kelas V SD. Saya, sebagai pendidik, melihat momentum ini sebagai kesempatan untuk menghubungkan isu lingkungan nyata dengan capaian pembelajaran IPAS yang menuntut peserta didik memahami perubahan kondisi alam akibat aktivitas manusia.
Fenomena “All Eyes on Papua” beberapa waktu lalu ramai dibagikan oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, di Instagram, TikTok, dan platform digital lainnya. Tingginya perhatian publik terhadap hilangnya hutan adat di Papua menunjukkan bahwa peserta didik pun tidak asing dengan isu yang sedang ramai di dunia maya. Dari sinilah saya melihat peluang untuk menghadirkan pembelajaran yang relevan, kritis, dan dekat dengan kehidupan mereka.
Dalam sesi pembelajaran, saya menjelaskan kembali latar belakang kampanye tersebut: konflik pembukaan lahan yang mengancam hutan adat, dampak lingkungan yang ditimbulkan, serta peran masyarakat adat yang mempertahankan ruang hidupnya. Peserta didik kemudian saya ajak membaca beberapa ringkasan berita yang mudah dipahami, agar mereka mendapat gambaran objektif berdasarkan sumber kredibel.
Setelah memahami konteksnya, peserta didik diminta mengidentifikasi persoalan lingkungan dalam kasus ini:
1. Perubahan permukaan bumi akibat deforestasi,
2. Hilangnya keanekaragaman hayati,
3. Potensi erosi, dan
4. Dampak sosial bagi masyarakat adat.
Peserta didik juga diarahkan untuk menyampaikan pendapat pribadi mengenai maraknya kampanye ini di media sosial. Hal ini membantu peserta didik yang sebelumnya hanya melihat poster kampanye, untuk memahami alasan di balik ramainya isu tersebut.
Agar mereka tidak hanya memahami isu secara teoretis, saya menyiapkan sebuah praktikum sederhana: membandingkan tanah yang ditumbuhi tanaman (representasi hutan) dan tanah tandus tanpa vegetasi.
Melalui percobaan ini, peserta didik melihat secara langsung bahwa tanah dengan tanaman lebih stabil, lebih lambat menyerap air, dan tidak mudah tergerus, sedangkan tanah tandus cepat hanyut dan mudah terkikis. Hasil pengamatan ini membuat peserta didik menyadari bagaimana hilangnya hutan dapat mengubah kondisi alam di permukaan bumi. Fakta ilmiah tersebut menjadi dasar mereka untuk membangun argumen secara lebih kuat dan kritis.
Dalam penutup pembelajaran, saya mengajak peserta didik membuat kampanye sederhana. Bukan untuk mengikuti tren, melainkan sebagai bentuk refleksi: bagaimana suara kecil mereka bisa menjadi bagian dari kesadaran publik terhadap kelestarian lingkungan. Beberapa bentuk kampanye yang mereka buat meliputi: poster digital, slogan ajakan menjaga hutan, cerita pendek tentang masyarakat adat, hingga ilustrasi dampak deforestasi.
Saya tidak mengarahkan mereka untuk memiliki pendapat yang sama. Sebaliknya, saya memberi ruang agar mereka membangun pandangan berdasarkan fakta, hasil praktikum, dan sumber yang mereka pelajari. Tujuan utamanya adalah melatih kemampuan berpikir kritis, salah satu keterampilan abad ke-21 yang sangat dibutuhkan.
Melibatkan isu “All Eyes on Papua” dalam pembelajaran IPAS tidak hanya membuat materi lebih kontekstual bagi peserta didik, tetapi juga mengajarkan mereka bahwa isu lingkungan bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka. Dengan menghubungkan dunia digital yang mereka kenal dengan realitas sosial-ekologis, peserta didik belajar bahwa suara mereka dapat berkontribusi pada perubahan.
Praktik baik ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis ESD tidak harus rumit; guru hanya perlu menangkap fenomena di sekitar peserta didik lalu mengolahnya menjadi pengalaman belajar yang relevan, kritis, dan penuh makna.
Mengangkat Isu “All Eyes on Papua” dalam Pembelajaran IPAS: Mengasah Kepedulian Lingkungan Peserta Didik
ZZ
Zeni Zakia Zamania
14 Nov 2025